Minggu, 27 November 2011

Resensi Novel Supernova

Resensi Novel Supernova - Petir


1. Data Publikasi

Judul Buku : Supernova – Petir

Penulis : Dewi “DEE” Lestari

Penerbit : PT. Andal Krida Nusantara (AKOER)

Jumlah Halaman : 201 Halaman

Cetakan : Ketiga,Februari 2005

Tema : Resensi Novel

2. Sinopsis

Kata-kata awal di luar cerita dimulai dengan bahasa tingkat tinggi yang sangat sulit dimengerti dan penih metafora, membuat kening berkerut untuk memahami dan membayangkan makna dari tulisannya, padahal hanya kata pengantar, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting.

Cerita awal yang ditampilkan pada bab pertama berkisah tentang dua orang laki-laki, Ruben dan Dhimas yang terlibat hubungan homoseksual. Cerita yang merupakan lanjutan dari “Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang” tidak perlu diceritakan karena sama sekali tidak mempengaruhi cerita “Supernova: Petir” . Jadi cerita ini hanya seperti mengingatkan pada serial Supernova sebelumnya.

Elektra, tokoh utama dalam novel ini adalah seorang gadis keturunan cina dan berumur sekitar 20 tahun. Elektra merupakan anak dari seorang ahli elektronik bernama Wijaya yang memiliki tempat servis sendiri yang bernama Wijaya Elektronik. Kakaknya bernama Watti. Entah kenapa ayah mereka memberi nama yang mirip dengan istilah dalam bidang kelistrikan.

Masa kecil kedua anak ini kurang bahagia, karena mereka tidak pernah memiliki mainan baru. Setiap mainan mereka rusak, ayah mereka selalu dapat memperbaikinya. Saat Elektra kecil ia pernah tersetrum listrik dari kabel yang tidak sengaja ia sentuh. Sementara Dedi panggilan akrab ayahnya sudah menjalin ikatan suci dengan listrik. Pernah Elektra menyentuhkan test-penke tubuh Dedi dan ajaibnya dapat menyala. Hal ini mulai terjadi saat ia tersetrum listrik tiga fasa dari kabel telanjang yang tersentuh olehnya, ia pingsan, hebatnya ia dapat sadar dengan selamat.

Elektra kecil sangat senang menonton kilatan petir dan ia sering menari-nari dibawah hujan saat petir manggelegar. Karena kejadain itu Watti menyuruh Elektra ke Gereja untuk disucikan dan dibebaskan dari pengaruh roh jahat. Dan alhasil usahanya tidak berhasil dan Elektra malah semakin penasaran dengan keanehan dalam dirinya.

Namun, tak disangka Dedi kena Stroke dan menginggal dengan seketika. Dan Elektra adalah orang yang paling shock. Setelah Dedi menginggal akhirnya Watti menikah dengan Kang Atam, dokter lulusan Universitas Pajajaran dan pindah ke Tembagapura. Dan sebelum Dedi meninggal Watti sempat meminta izin untuk pindah ke agama Islam.

Hari-hari terasa sepi bagi Elektra, karena ia tinggal di rumah besarnya yang bernama Eleanor. Dan pada suatu ketika hujan turun sangat dahsat serta petir menyambar-nyambat dan entah kenapa ia keluar dan bermandikan hujan, ia menari-nari dan tidak beberapa lama petir menyambar pucuk pohon asam di pojok rumah. Dan apakah itu tatian memanggil petir dari alam bawah sadar ? itu lah pertanyaan Elektra.

Ia juga pernah dikirimi surat dari STIGAN (Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional) dan mengajaknya menjadi Asisten Dosen di Universitas tersebut. Elektra sangat bingung kemudian mendatangi dukun sakti untuk meminta perlindungan tetapi sang dukun sakti tersebut malah akan melakukan hal seronok padanya, kemudian Elektra mencegahnya dan memegang pundak sang dukun dan tiba-tiba sang dukun pingsan seperti tersetrum listrik. Dan setelah diselidiki lebih lanjut STIGAN hanyalah mainan orang iseng yang ingin menakuti orang lain.

Hari-hari selanjutnya ia merapikan seluruh rumahnya dan menemukan suasana yang tidak pernah ia temukan selama bertahun-tahun. Suatu ketika ia bertemu dengan teman SMA-nya yang memiliki warnet. Lalu ia diajarkan menggunkan internet. Dan ajaibnya ia seperti menemukan kehidupan baru semenjak kenal internet. Hari-harinya dipenuhi dengan internet. Ia seperti kecanduan pada interner. Dan pada puncaknya ia sakit karena kelelahan dan ia tak dapat bengun dari tempat tidurnya selama beberapa hari. Lalu datanglah seorang wanita yang bernama Ibu Sati, ia adalah pemilik toko yang menjual perlengkapan pemujaan. Ibu Sati mengajarkan berbagai hal dan ia juga yang menyarankan Elektra untuk mempunyai komputer sendiri

Akhirnya Elektra bersama Kewoy (penjaga warnet temannya) pergi ke pameran untuk membeli komputer dan diluar rencana, Elektra malah tertarik dengan komputer super canggih seharga Rp. 17 juta dan akhirnya Elektra membeli komputer super canggih tersebut. Tak beberapa lama ia memiliki benda tersebut, Ibu Sati menyarankannya untuk mendirikan warnet. Saat Elektra dan Kewoy mulai menjalankan niat mereka tersebut akhirnya ia bertemu dengan seorang maniak internet. Namanya Toni biada disapa Mpret. Ia telah berhasil membuat 12 Virus dan menyadap Internet Banking beberapa Bank.

Kesepakatan bisnis terlaksana mereka mulai menyulap Eleanor menjadi Warnet, Rental PS, Distro, Home theater dan tentu saja tak lupa warung nasi goreng yang penjualnya bernama Mas Yono. Sebulan bangunan tersebut selesai selanjutnya mereka mencari nama yang cocok, setelah berdiskusi banyak akhirnya munculah sebuah nama ELEKTRA POP.

Berbulan-bulan usaha warnet itu berjalan dan memberikan keuntungan yang cukup besar, warnet itu tidak pernah “mati”, 24 jam sehari selalu ramai dikunjungi pengunjung.

Tak disangka, pada suatu ketika Elektra terserang penyakit aneh yang apabila ia ingin pergi ke dokter penyakit itu sembuh dan sebaliknya ketika ia mulai duduk di belakang komputernya penyakit itu kambuh lagi. Akhirnya 4 orang temannya, Kewoy, Mpret, Mi’un dan Mas Yono berini siatif untuk membawanya ke rumah sakit secara diam-diam dan takdisangka-sangka saat mereka sakan membawanya “DAR” mereka terlempar karena listrik dari tubuh Elektra.

Akhirnya Ibu Sati datang dan memberi wejangan pada Elektra dan kontan saja suasana Eleanor menjadi ricuh. Lalu Ibu sati membawa Elektra ke ruangan Home Theater yang kosong dan mereka berbicara empat mata. Di situ Ibu Sati memberitahu kalau Elektra memiliki kemampuan yang luar biasa. Maka mulai saat itu Elektra dilatih agar bisa mengendalikan kekuatannya. Setelah ia dapat mengendalikan kekuatannya maka ia mendirikan “Klinik Elektrik” di ruang rental PS-nya. Dan tak disangka orang yang datang untuk berobat banyak.

Konflik terjadi saat Mpret tidak setuju untuk membuat “Klinik Elektrik” di rental PS-nya. Kemampuan Elektra semakin berkembang, hanya dengan menyentuk tangan lawan bicaranya ia dapat membaca pikirannya dan dapat menggerakkan sendok tanpa disentuh.

Setelah Lebaran, setelah warnet beristirahat setelah berkerja full mereka kedatangan tamu, sepupunya Mpret yaitu “BONG” dan selanjutkan tidak dijelaskan apa yang terjadi antara Bong dan Elektra serta Mpret.

3. Keunggulan

Supernova adalah novel yang sangat menarik dan meyenangkan karena dengan membaca novel ini kita dapat bermain dengan imajinasi kita.Serta banyak kata-kata yanga sangat indah seperti:

Tak ada cara untuk menggambarkannya dengan tepat. Tapi coba bayangkan ada sepuluh ribu ikan piranha yang menyergapmu langsung. Kau tak mungkin berpikir. tak mungkin mengucapkan kalimat perpisahan apalagi membacakan wasiat. Lupakan untuk berpisah dengan manis dan mesra seperti film-film. Listrik membununuhmu dengan sensasi. Begitu dahsaytnya, engkau hanya mampu terkulai lemas. Engkau mati tergoda.”.

4. Kelemahan

Cerita yang tidak selesai adalah kelemahan dari novel ini. Tidak dijelaskan apa yang terjadi dengan Elektra selanjutnya, akan kemanakah cerita ini dibawa.

Maka pembaca hanya bisa menunggu serial selanjutnya dari novel supernova.

5. Pendapat Akhir

Novel ini harus dibaca karena dikemas dalam cerita yang bermanfaat dan banyak terdapat ilmu tambahan dijelakan dalam novel tersebut.

Serta novel ini baik untuk dibaca semua umur karena dapat mengembangkan kemampuan berimaginasi dan membuat kata-kata kiasan yang indah.

Minggu, 06 November 2011

Tugas 2 Bahasa Indonesia

Nama:Vini Agustianingsih
NPM :11109254
Kelas:3KA26


PUISI HARAPAN

Problematika Pendidikan

Pendidikan ?
Apakah penting dinegeri ini ?
Andaikan penting, nyatanya masih ada segelintir orang yang tidak dapat mencicipi kenikmatannya
Aku bertanya kepada bayanganku sendiri
Mengapa hal demikan bisa terjadi dinegeri ini

Ada seorang pengamen
Ada pula seorang tukang koran
Mereka ingin menikmati indahnya pendidikan
Dan menggantungkan cita-cita mereka menjulang kelangit
Namun tak ada satupun jiwa yang memperhatikan mereka
Kadang aku terbingung dikala gundah melanda
Meratapi runcingan yang hadir tanpa di undang dinegeri ini

Di tempat lain
Para pejabat berlomba-lomba menyuarakan pendapatnya
Ada yang minta di naikan gaji
Sampai meminta gedung yang baru yang berfasilitas mewah
Mereka seakan tuli dan buta
Tak mau lagi mendengarkan aspirasi rakyat jelata
Tak mau lagi melihat rakyat yang berteman derita

Andaikan pembangunan gedung baru itu dibatalkan
Dan uangnya untuk orang-orang yang ingin mencicipi nikmatnya pendidikan
Mungkin semua orang akan bahagia mendengarnya

Mungkin ini hanya sebuah mimpi ataupun sebuah ilusi
Yang tak mungkin terjadi ataupun tak pernah terjadi

Karya : Bayu P Abuna, Banjarmasin

NO

Diksi

Perbaikan

Alasan

1.

Segelintir

Sebagian

Kata “segelintir” adalah kata yang kurang tepat untuk dinyatakan dalam bahasa indonesia, seharusnya dengan menggunakan kata “sebagian”.

2.

Mencicipi

Merasakan

Kata”mencicipi”adalah kata diksi yang tidak baku diucapkan,tepatnya menggunakan kata”merasakan”.

3.

Menjulang

Mencapai

Kata”menjulang”adalah kata yang berlebihan dalam konteks bahasa indonesia,lebih tepatnya menggunakan kata”mencapai”.

4.

Runcingan

Masalah

Kata”runcingan”adalah kata yang menyatakan kata sifat,tepatnya dengan menggunakan kata”masalah”agar lebih jelas pengartiannya.

5.

Tuli

Tidak mendengar

Kata”tuli”adalah kata yang kurang tepat,lebih tepat dan lebih sopan menggunakan kata”tidak mendengar”.

6.

Buta

Tidak melihat

Kata”buta”adalah kata yang kurang tepat,tepatnya menggunakan kata”tidak melihat”agar memperjelas makna puisi.

7.

Jelata

Tidak mampu

Kata”jelata”adalah kata diksi yang berlebihan,tepatnya dengan menggunakan kata”tidak mampu”untuk memperbaiki perkataan dalam menggunakan bahasa indonesia yang benar.

Puisi ini bersumber dari : http://www.gudangpuisi.com/2011/10/problematika-pendidikan-2.html#ixzz1cwV9IhXL